Willie Smits mendirikan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki pada akhir tahun 1990-an bersama beberapa PPS lainnya untuk melawan perdagangan ilegal hewan liar di Indonesia.

Sulawesi Utara dikenal sebagai salah satu rute penyelundupan hewan liar dari Indonesia ke pasar global melalui Filipina. Banyak sekali hewan-hewan terancam punah dari seluruh Indonesia yang diperdagangkan melalui rute ini. PPS Tasikoki menyelamatkan banyak sekali hewan yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia mulai dari Sumatra (siamang), Kalimantan (orangutan, gibbon, beruang madu), Jawa (macan tutul Jawa dan kura-kura), hingga Papua (kasuari, burung nuri, buaya). Tasikoki terletak di wilayah yang strategis sehingga mempermudah pihak yang berweenang untuk menggagalkan penyelundupan dan merehabilitasi hewan-hewan sitaan.

Kegiatan di PPS dilakukan oleh staf lokal yang dipimpin oleh tim internasional. Staf dan tim juga didukung oleh relawan dari seluruh penjuru dunia. Para relawan berpartisipasi dalam merawat hewan-hewan di PPS. Sedangkan PPS sendiri menyediakan bantuan finansial untuk merawat hewan-hewan tersebut.

Pantai pasir hitam yang ada di wilayah PPS memanjang hingga padang lamun dangkal yang terletak beberapa ratus meter dari bibir pantai. Di belakang padang lamun ini, terdapat barisan terumbu karang. Sebagian dari terumbu karang ini dalam keadaan rusak, dan kami berusaha untuk merestorasinya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menggunakan konstruksi bambu. Pantai ini seringkali dikunjungi oleh tiga spesies penyu yang datang untuk bertelur. Kami mengumpulkan telur-telur ini untuk ditetaskan sebelum sempat digali oleh pemburu telur. Penyu yang menetas di PPS Tasikoki kemudian akan dilepaskan di pantai. Beberapa penyu yang menetas di PPS Tasikoki telah tumbuh dewasa dan bahkan kembali ke pantai yang sama untuk bertelur.